Cioko, Sembahyang Rebutan yang Diam-Diam Mengajarkan Empati Sosial Sebelum Kata "Privilege" Jadi Trending Topic.
Kalau kamu tumbuh besar di lingkungan Tionghoa, mungkin pernah dengar cerita tentang Cioko atau Ulambana, yang sering diterjemahkan awam sebagai "bulan hantu" atau "sembahyang rebutan". Kesannya seram: konon di bulan ketujuh penanggalan Im Lek, gerbang alam baka terbuka dan arwah-arwah gentayangan bebas berkeliaran. Banyak orang yang cuma tahu versi horor ini, jadi wajar kalau generasi muda menganggap Cioko sebagai tradisi yang menyeramkan dan mistis, jauh dari kesan relevan buat kehidupan sehari-hari.
Tapi coba kita lihat lebih dalam esensi di baliknya, karena ada sisi yang jarang dibahas: Cioko sebenarnya soal empati kepada mereka yang "kurang beruntung", bahkan setelah kematian sekalipun.
Dalam kepercayaan tradisional, ada arwah-arwah yang disebut sebagai "roh kelaparan" atau dalam istilah lain digambarkan sebagai golongan yang tidak memiliki keluarga untuk mendoakan atau memberi persembahan bagi mereka, entah karena keturunannya sudah habis, meninggal dalam kondisi tragis, atau terlupakan begitu saja oleh sejarah keluarga. Pada bulan Cioko, masyarakat secara kolektif menyiapkan sesajian dan persembahan bukan cuma untuk leluhur mereka sendiri, tapi juga untuk arwah-arwah yang tidak punya siapa-siapa lagi untuk mengingat mereka.
Coba renungkan ide ini sejenak: sebuah tradisi yang secara khusus dirancang untuk mengurus dan memperhatikan pihak yang "tidak beruntung", yang tidak punya Privilege seperti punya keluarga yang mendoakan atau mengingat mereka. Konsep ini sebenarnya sangat sejalan dengan apa yang sekarang kita kenal sebagai kesadaran sosial atau social awareness, sebuah nilai yang belakangan digaungkan generasi muda lewat gerakan-gerakan sosial, kampanye kesetaraan, dan diskusi soal privilege di media sosial.
Bedanya, kalau sekarang kita mendiskusikan privilege lewat utas panjang di Twitter atau caption Instagram yang estetik, leluhur kita sudah mempraktikkan versi konkretnya lewat ritual tahunan yang melibatkan seluruh komunitas: menyiapkan makanan, membakar Hu atau kertas doa, dan mendoakan mereka yang "kalah" secara nasib, bukan cuma untuk keluarga sendiri.

Ada juga dimensi sosial yang sering terlewat dari perayaan Cioko. Di banyak tempat, sisa-sisa persembahan yang sudah didoakan kemudian dibagikan atau bahkan diperebutkan secara simbolis oleh warga sekitar, yang dari situlah istilah "sembahyang rebutan" muncul. Meskipun kelihatannya cuma soal makanan gratis, ini sebenarnya juga bentuk redistribusi sumber daya di tingkat komunitas, di mana keluarga yang mampu menyiapkan persembahan berlimpah, dan warga sekitar yang membutuhkan turut kebagian rezeki dari acara tersebut.
Kalau dipikir dengan kerangka berpikir modern, ini mirip konsep community fridge atau gerakan berbagi makanan gratis yang belakangan populer di berbagai kota besar, di mana orang meletakkan makanan lebih di titik tertentu untuk siapa saja yang membutuhkan. Cuma versi Cioko dilakukan dengan bungkus ritual keagamaan dan budaya, dan sudah berjalan turun-temurun sejak lama.
Ada juga pelajaran menarik soal cara Cioko dirayakan secara kolektif, bukan individual. Persiapan sesajian biasanya melibatkan gotong royong warga sekampung atau komunitas klenteng, bukan cuma satu keluarga saja yang repot sendirian. Semangat gotong royong semacam ini, di mana beban dan hasil ditanggung serta dinikmati bersama, sebenarnya jadi fondasi penting dalam ketahanan sosial suatu komunitas. Riset sosiologi tentang modal sosial menunjukkan bahwa komunitas dengan tradisi kolektif yang kuat, di mana warganya terbiasa bergotong royong untuk kepentingan bersama, cenderung lebih tangguh menghadapi krisis dibanding komunitas yang individualistis. Cioko, tanpa disadari, jadi salah satu latihan tahunan yang memperkuat ikatan sosial semacam itu.
Menariknya lagi, perayaan ini juga mengajarkan penerimaan terhadap sisi gelap kehidupan tanpa harus menutup-nutupinya. Alih-alih menghindari topik kematian tragis atau nasib buruk sepenuhnya, seperti kecenderungan masyarakat modern yang serba positif dan menghindari pembicaraan berat, Cioko justru secara terbuka mengakui keberadaan penderitaan dan nasib kurang beruntung, lalu meresponnya dengan tindakan nyata berupa kepedulian, bukan dengan menyangkalnya. Sikap semacam ini sebenarnya lebih sehat secara psikologis dibanding budaya "toxic positivity" yang belakangan mulai dikritik banyak psikolog, karena mengakui keberadaan hal buruk justru langkah pertama untuk bisa meresponnya dengan bijak.
Tentu saja, nuansa mistis dan cerita horor seputar Cioko tetap akan terus ada, karena itu bagian dari cara cerita rakyat diwariskan supaya menarik dan diingat orang. Tapi ketika kita mengupas lapisan ceritanya lebih dalam, inti dari Cioko sebenarnya adalah pengingat tahunan bahwa kepedulian kita seharusnya nggak berhenti di lingkaran keluarga atau circle pertemanan sendiri. Ada pihak-pihak yang terlupakan, yang tidak punya "keberuntungan" untuk diingat atau diperjuangkan, dan tradisi ini secara halus mengajarkan kita untuk tetap memperhatikan mereka.
Jadi lain kali kamu dengar cerita seram tentang Cioko atau bulan hantu, coba ingat juga sisi lainnya: ini adalah salah satu ritual paling awal dalam sejarah yang secara sistematis mengajarkan empati sosial lintas generasi, jauh sebelum kita punya kosakata akademis untuk menjelaskannya.

Bayangkan kalau nilai di balik Cioko ini diterjemahkan ke dalam kebiasaan sehari-hari generasi sekarang, tidak harus lewat ritual sembahyang, tapi lewat kesadaran untuk terus memperhatikan mereka yang kurang beruntung di sekitar kita, entah lewat donasi kecil, waktu untuk relawan, atau sekadar empati dalam interaksi sehari-hari. Esensi Cioko sebenarnya sesederhana itu: mengingatkan kita bahwa keberuntungan yang kita miliki, sekecil apa pun, layak dibagikan kepada mereka yang tidak seberuntung kita, tanpa harus menunggu bulan ketujuh penanggalan Im Lek untuk melakukannya.
